Tanggal Posting

May 2012
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Aktifitas


Adzan

Adzan Harus Bagus, Merdu dan Keras

http://www.suara-islam.com

Adzan harus dikumandangkan dengan suara yang bagus, merdu dan kuat (keras). Bukan sayup-sayup yang malah akan membuat orang tertidur pulas.

Aktivitas pertama yang dilakukan Rasulullah di Madinah adalah membangun Masjid. Bersama para sahabat, Rasulullah bahu membahu membangun Masjid Nabawi. Setelah bangunan selesai, Rasulullah bermusyawaran dengan para sahabat untuk menciptakan suatu tindakan guna membangunkan orang yang tertidur dan mengingatkan orang yang lupa, serta memberitahukan manusia mengenai masuknya waktu untuk melaksanakan shalat.

Di antara mereka ada yang berpendapat dengan diangkat bendera ketika waktu shalat datang supaya dapat dilihat seluruh orang. Akan tetapi semua orang menolak pendapat ini. Karena hal tersebut tidak mampu membangunkan orang yang tidur dan orang yang lupa.

Kemudian yang lainnya berpendapat dengan menyalakan api di dataran tinggi. Akan tetapi pendapat ini pun tidak diterima. Kemudian yang lain mengisyaratkan dengan menggunakan terompet, sebagaimana yang digunakan kaum Yahudi sebelum melakukan ibadah mereka. Maka Rasulullah pun tidak menyukainya, karena amalan-amalan Islam berbeda dengan amalan-amalan Ahli Kitab.

Kemudian ada sebagian sahabat Nabi yang mengusulkan untuk menggunakan lonceng sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani. Rasulullah juga tidak menyukainya. Maka muncullah ide dari sebuah kelompok untuk mengumandangkan seruan atau ajakan jika waktu shalat telah masuk. Diterimalah usulan ini.

Salah seorang yang ditugasi sebagai orang yang mengumandangkan seruan shalat adalah Abdullah bin Zaid al-Anshari. Ketika dia tidur, dia bermimpi didatangi seseorang yang mengajarkan seruan shalat. Orang itu berkata, “Maukah engkau aku ajari bacaan untuk seruan shalat?. Dia mejawab, “Tentu saja”.

Orang itu pun berkata,”Ucapkanlah: Allahu akbar sebanyak 2 kali, syahadat sebanyak dua kali, kemudian ucapkan pula hayya ‘ala ash-sholah sebanyak dua kali, dan kemudian hayya ‘ala al-falah sebanyak dua kali. Kemudian takbir sebanyak dua kali dan terakhir membaca la ilaha ilallah.”

Saat bangun, ia langsung menghadap Rasulullah dan melaporkan mimpi itu. Beliau bersabda, “Mimpi itu benar.” Kemudian beliau pun berkata, “Ajarkanlah kepada Bilal karena dia yang paling keras suaranya di antara kalian.” Ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk melaksanakan shalat, datanglah Umar bin Khattab sambil mengangkat pakaiannya, dia berkata, ”Demi Allah, aku pun bermimpi yang sama wahai Rasulullah.”

Maka jadilah Bilal salah satu juru adzan di Madinah, dan satu lagi Abdullah bin Ummi Maktum. Ketika adzan subuh Bilal menambahkan setelah ucapan hayya ‘alal al-falah dengan kalimat ash-shalatu khairun minan-naum sebanyak dua kali dan Rasulullah pun menyetujui hal tersebut.

Pada awalnya adzan dikumandangkan di tempat yang tinggi, kemudian dibangunkan menara khusus sebagai tempat adzan. Ini bertujuan agar adzan bisa didengarkan oleh semua kaum muslimin. Sekarang dengan kecanggihan teknologi cukup dengan pengeras-pengeras suara yang dipasang di Masjid atau mushola. Walaupun umat Islam tetap membangun menara di sisi masjid.

Adzan hukumnya fardhu kifayah bagi penduduk negeri-negeri, baik kota maupun desa, kecuali mereka yang berada di ladang pertanian, kebun-kebun atau mereka yang sedang melakukan perjalanan. Dari Abu Darda ra, ia berkata; aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tidakkah tiga orang di desa, lalu tidak dikumandangkan adzan dan iqamah untuk shalat disuatu desa, kecuali mereka telah dikuasai setan…” (HR. Ahmad)

Muadzin juga mendapatkan keutamaan atas apa yang dia serukan, sebagaimana hadits yang diwiyatakan Imam Ahmad dan Nasa’i, “Dan muadzin itu baginya diberikan ampunan sekeras suaranya, dan dibenarkan oleh orang yang mendengarnya yang berasal dari tanah kering dan basah, dan baginya semisal pahala orang yang shalat bersamanya.”

Jadi Adzan harus dikumandangkan dengan suara yang bagus, merdu dan kuat (keras). Bukan sayup-sayup, sebagaimana permintaan Wapres Boediono yang memang kejawen (abangan) dan tidak mengerti perihal adzan. Boediono merasa risih dengan suara adzan, karena rumah dinasnya di Jakarta berseberangan dengan Masjid Sunda Kelapa yang mengumandangkan adzan lima kali dalam sehari. Wallahu a’lam bis shawwab.

shodiq ramadhan

*****

Menag Tolak Keinginan Wapres Atur Adzan

Jakarta (SIONLINE)- Keinginan Wapres Boediono untuk mengatur suara adzan di masjid-masjid di seluruh Indonesia, ditolak dengan tegas oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali. Sebab jika sampai dilaksanakan apalagi dipaksakan, maka akan menimbulkan masalah dengan umat Islam dikemudian hari.

“Kalau suara adzan sebagai tanda panggilan sholat sampai diatur-atur, maka akan njelimit. Apakah nantinya bisa dilaksanakan dan apakah bisa dikontrol,” tanya Menag Suryadharma Ali kepada para wartawan seusai memberikan pengarahan pada para pejabat eselon I dan II di Aula Kemenag Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (30/4). Turut hadir Sekjen Kemenag, Bahrul Hayat dan para Dirjen di lingkungan Kemenag.

Menurut Menag, kalau pengeras suara untuk adzan sampai diatur, maka nanti seluruh pengeras suara juga akan diatur, seperti pengeras suara para demonstran, pengeras suara konser musik dan sebagainya, sehingga nantinya akan merepotkan.

Sementara itu dalam sambutannya ketika membuka Muktamar Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jum’at (27/4) lalu, Wapres Boediono minta agar suara adzan diatur sehingga tidak terlalu keras memekakkan telinga.

“Apa yang dirasakan barangkali juga dirasakan oleh orang lain, yaitu bahwa suara adzan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari dibanding suara yang terlalu keras, menyentak dan terlalu dekat ke telinga,” ujar Wapres Boediono.

Sementara itu berdasarkan investigasi Suara Islam Online ke Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat yang berada persis di samping rumah dinas Wapres Boediono,  diperoleh keterangan dari salah seorang jamaah bahwa Wapres Boediono tidak pernah menginjakkan kakinya ke Masjid Sunda Kelapa untuk sholat lima waktu kecuali sholat Jum’at dan itupun datangnya sudah terlambat menjelang khotib naik mimbar. Maka tidakklah mengherankan jika telinga Wapres Boediono yang dikenal berfaham neolib sekuler itu menjadi panas kalau mendengar suara adzan. (*)

Rep: Abdul Halim

 

 ***

http://mediaumat.com/

[82] Dirosah Syar’iyah XVIII: Bahaya Depolitisasi Masjid

 

Monday, 11 June 2012

Wakil Presiden Boediono melontarkan pernyataan tentang pengaturan pengeras suara adzan. Tidak hanya itu Boediono juga melontarkan pernyataan agar masjid dijaga jangan sampai jatuh ke tangan mereka yang menyebarkan gagasan yang tidak Islami seperti radikalisme, fanatisme sektarian, permusuhan terhadap agama dan kepercayaan orang lain, yang menimbulkan tindak kekerasan dan terorisme. Itu disampaikannya di hadapan Muktamar ke-6 Dewan Masjid Indonesia, Sabtu (28/4) di Jakarta.

Pernyataan Wapres tersebut menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan termaksud dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Berkaitan dengan pernyataan tersebut DPP HTI menyelenggrakan Dirosah Syar’iyah ke XVIII bertajuk “Bahaya Depolitisasi Masjid”, Sabtu (12/5) di kantor DPP HTI Crown Palace Jakarta. Hadir sebagai pembicara Ketua Lajnah Tsaqafiyyah DPP HTI Hafidz Abdurrahaman dan Pimpinan Ma’had Darul Muwahhidin KH Shafar Mawardi.

Hafidz menjelaskan, masjid adalah harta milik umum, yang tidak boleh dimonopoli atau dikapling oleh individu, kelompok, bahkan negara. Siapapun berhak memanfaatkan masjid sesuai dengan peruntukannya, dan tidak boleh dihalangi, dilarang atau diusir. Tentu, dengan tetap menjaga adab dan akhlak di masjid sebagai rumah Allah dan tempat ibadah.

Fungsi dan peran masjid telah dijelaskan dalam oleh  Ibn Taimiyyah yang berkata, “Tempat para imam dan berkumpulnya umat adalah masjid. Nabi SAW membangun masjidnya berdasarkan ketakwaan. Di sana, beliau shalat, membawa Alquran, zikir, mengangkat para pemimpin, memperkenalkan tokoh. Di situ, kaum Muslim berkumpul, karena urusan agama dan dunia yang mereka anggap penting,” ujar Hafidz Abdurrahman.

Ia menyatakan, depolitisasi masjid merupakan bagian dari proyek deislamisasi terhadap umat Islam. “Depolitisasi masjid adalah proyek untuk menjauhkan dan membersihkan masjid dari fungsinya yang sebenarnya dan dari peranan politik Islam. Ini sama saja dengan deislamisasi,” jelasnya.

Jadi, lanjutnya, depolitisasi masjid merupakan bagian dari proyek penjajahan, dan menjauhkan agama dari kehidupan (sekulerisasi). Tujuannya agar umat Islam lemah dan terus bisa dijajah. “Proyek ini bisa berjalan, jika ada agen negara penjajah yang menjadi pelaksana proyek. Bisa berbaju kyai, imam, DKM, DMI, maupun yang lain. Maka, proyek ini haram dijalankan oleh kaum Muslim,” imbuhnya.

Sedangkan, Shafar menjelaskan, masjid merupakan urat nadi dari Daulah Islam peranannya sangat penting di masyarakat. “Masjid adalah urat nadi bagi umat Islam, urat nadi bagi Daulah Islam,” tuturnya.

Selain sebagai sentral pelaksanaan ibadah, masjid juga melaksanakan aktifitas lain sepeti pendidikan, menyelesaikan permasalahan umat. bermusyawarah, dan bahkan mempersiapkan diri untuk berjihad.

“Coba kalau sekarang kita melakukan persiapan jihad di masjid, pasti disangkanya teroris. Inilah yang dimaksud depolitisasi masjid, mempersempit peran masjid yang sebenarnya. Apa ada yang berani mempersiapkan jihad di dalam masjid?” serunya disambut senyuman para peserta.[] fatih mujahid


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>